Legenda Aceh AMAT RHANG MANYANG (episode 1)

Di kampung Pasie berdekatan dengan kampung Paya Senara daerah Krueng Raya mukim XXI I , pada zaman dahulu berdiamlah di tempat itu satu keluarga terdiri dari bapak, ibu dan seorang anaknya laki-laki bernama "Amat", Amat, sering juga di panggil „Agam" yaitu panggilan umum kepada anak laki-laki di daerah Aceh.
Keluarga ini tergolong miskin. Pekerjaannya sehari-hari menngolah sabut dan membuat garam. Kuli t kelapa yang umumnya dibuang orang mereka kumpulkan, lalu direndam di dalam lumpur. Setelah agak lama, rendaman itu diangkat, lalu dibersihkan, dagingnya yang sudah agak membusuk dibuang sehingga tinggal seratnya saja. Serat ini diolah atau dipintal menjadi berjenis-jenis tali sabut. Untuk memasak mereka mempergunakan kulit kelapa, pelepah dan daunnya sebagai kayu api. Sedangkan bagi orang kaya semua itu dibuang saja atau paling banyak dijadikan unggun api pengusir nyamuk di kandang lembu.

Disamping itu mereka membuat garam, karena kampung Pasie (Pasir) itu sendiri terletak di tepi pantai. Hasil dari kedua usaha mereka inilah yang mereka jual untuk mendapatkan nafkah hidup sehari-hari yang masih jauh memadai. Kasih sayang kedua orang tua si Amat tercurah kepadanya, sebab ia anak tunggal satu-satunya. Mereka ingin memberikan kecukupan untuk anak mereka, sebagaimana kebanyakan anak-anak orang lain, tetapi apa hendak dikata, maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai.
Berbagai usaha lain sudah dicoba oleh bapak si Amat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya, tetapi te tap mengalami kekecewaan. Mungkin karena memang mereka tidak mempunyai modal apapun, kecuali tenaga dan kemauanDalam keadaan begini kedua orang tua itu selalu berpasrah diri kepada Tuhan, mempertebal keimanan dan taqwa. Selesai setiap shalat mereka tetap mendoakan setidak-tidaknya kepada anaknya Amat, kelak Tuhan dapat memberikan kehidupan yang lebih layak, sehingga dapat dijadikan payung di kala hujan, kayu rimbun tempat berteduh bagi mereka dihari tua.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, pada ketika Amat berumur kurang lebih lima tahun meninggallah bapaknya. Patahlah dahan tempat berjuntai, rubuhlah cabang tempat bergayut. Tinggallah kini si Amat beserta ibunya. Betapa sedihnya ibu si Amat tak terperikan lagi. Cita-cita yang dahulu diusahakan akan dijangkau oleh dua pasang tangan, ia dan suaminya, sekarang hanya olehnya sendiri. Dan sampai dimanakah pula daya seorang wanita.
Bapak si Amat tidak meninggalkan warisan sekalipun, kecuali sebuah gubuk tiris beserta anaknya si Amat, yang perutnya setiap hari minta diisi. Kemudian segumpal cita-cita dan doa untuk kebahagiaan mereka dikemudian hari.
Dipenghujung tangis yang berkepanjangan, karena iman dan taqwa, timbul kembali kesadaran yang sempurna, bahwa semua itu adalah takdir dan kehendak yang Maha Kuasa. Bulatlah tekad cita-cita tak boleh pudar, tetap diusahakan pencapaiannya menurut kemampuan yang ada.
Amat diserahkan kepada Tengku Meunasah untuk diajar mengaji bersama-sama dengan anak-anak lain sekampung. Pada dasarnya ia anak yang rajin dan pandai cepat dapat menerima pelajaran pengajian yang diberikan.
Sering Amat dicemoohkan oleh teman-temannya, karena pakaiannya compang-camping penuh tambalan, sambil menangis ia pulang ke rumah. Ibunya mengetahui semua ini. Pada kejadian yang demikian ibunya berusaha tersenyum, memeluk, dan mengusap air mata anaknya.
Kadang-kadang terus mendongengkan sesuatu yang maksudnya perbuatan seperti demikian adalah tidak baik yang akhirnya mendapat balasan tidak baik pula berupa bala dari Tuhan. Menjelang tidur malam hari sering pula ibunya menceritakan dongeng sejenis itu. Di antaranya
dongeng anak durhaka yang pada akhir ceritanya mendapat malapetaka.
Semua cerita itu diharapkan ibunya, agar dihayati si Amat sebagai contoh bahwa peri laku yang baik akan mendapat kebahagiaan, sedangkan watak yang buruk akan menerima siksaan. Peri laku yang baik tidak bergantung kepada pakaian yang baik atau buruk, kehidupan yang kaya atau miskin, tetapi adalah ungkapan jiwa yang ikhlas yang mulia di sisi Tuhan.
Sehabis- cerita biasanya Amat segera lelap. Namun dibalik itu semua, hati ibu si Amat sering tergoyah oleh penghayatannya sendiri. Lalu timbul ragu-ragu mungkinkah anaknya dapat menjadi orang baik-baik kelak, ataukah akan menjadi anak yang akan mengecewakan
harapannya?.
Pertanyaan terakhir yang tidak diucapkan ini lebih banyak menghantui dan menghawatirkannya. Akan bagaimana jadinya nanti, hidup sudah melarat, anak. membuat ulah pula. Mulailah air matanya menitik satu persatu bagai manik-manik putus karangan. Tidak lama kemudian ia dapat menguasai diri kembali dan keluarlah ucapannya berbisik :
„Na'udzabillahi min dzalik", yang maksudnya : „Kami berlindung kepada Allah dari hal buruk yang demikian", lalu semuanya menjadi biasa kembali, iapun lelap seperti anaknya.
Dari hari ke hari dari tahun ke tahun Amat menjadi remaja. Ia membantu ibunya sekedar tenaga yang ada padanya. Tetapi kehidupannya tidak banyak berobah, masih tetap tergolong miskin dan melarat.
Krueng Raya adalah sebuah sungai.  Di muaranya pada masa itu terdapat sebuah pelabuhan samudera atau pelabuhan besar, merupakan salah satu pelabuhan tempat mengirimkan barang dagangan hasil daerah Aceh ke luar negeri.
Dan sebaliknya tempat memasukkan barang-barang dagangan dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Armada dagang Aceh sudah cukup besar pada masa itu. Setiap hari berbilang kapal berlabuh dan bertolak terdiri dari kapal-kapal Aceh sendiri dan kapal-kapal luar negeri. Hiruk-pikuk dan ramai sekali. Ada yang sedang membongkar, dan ada pula yang sedang memuat barang-barang dagangan.
Beratus-ratus peti barang diturunkan, beratus-ratus peti pula yang diisi ke kapal. Ada kapal yang besar, banyak juga yang kecil. Diantaranya ada yang bentuknya indah, haluannya mencuat dan berakhir.
Menjelang saat bertolak berpuluh-puluh dayung bersembulan pada  kedua belah sisi kapal. Dayung-dayung inilah yang digerakkan dari dalam oleh awak-awak kapal sebagai daya penggerak kapal maju meluncur membelah gelombang mengharungi samudera luas menuju pelabuhan negeri tujuan. Lambaian tangan antara yang pergi dan yang tinggal sering mengharukan. Entah kapan bertemu lagj, atau mungkin berkubur di dasar laut diamuk topan dan badai.
Lambaian tangan bersambut pula kala berlabuh. Entah paman, saudara atau bapak sendiri yang datang. Atau mungkin pula kekasih yang dirindukan. Gelak tawa dan cumbu saat berjumpa seakan-akan mengatasi semua hiruk-pikuk di pelabuhan itu. Nakhoda dengan pakaian kebesarannya disertai pangkat di bahu kiri dan kanan kelihatan tampan dan megah. Kelasi-kelasi dengan pakaian seragamnya tampak tegap dan kuat. Berganti-ganti kapal yang datang dan yang pergi, berganti-ganti pula nakhoda dan kelasi-kelasi yang lalu lalang dan naik turun melalui dermaga pelabuhan. Semua mereka tampan dan gagah, tegap dan kuat.
Hampir setiap hari Amat bersama-sama kawan-kawannya datang ke dekat pelabuhan ini . Umumnya mereka sekedar melihat dan ingin mengetahui keadaan saja. Sesuatu yang mereka rasa aneh, mereka percakapkan bersama dan menceritakannya kepada kawan-kawan lain sekampung, bahkan ada diantara mereka menceritakan kepada orang tuanya.
Berbeda dengan yang lain, Amat mau juga ikut-ikutan bercerita, tetapi kiranya dengan diam-diam ia benar-benar menghayati semua yang dilihatnya di pelabuhan itu sejak dari kecil. Dalam pikiran Amat, nakhoda dan kelasi-kelasi itu selain tampan dan gagah, tegap dan kuat, tentu mereka orang kaya. Setidak-tidaknya kehidupan mereka jauh lebih baik dari pada kehidupan Amat beserta ibunya.
Lalu lambat laun menyusup ke hati sanubarinya keinginan untuk menjadi nakhoda atau kelasi. Jika keinginannya tercapai tentu hidupnya bersama ibunya akan berubah menjadi lebih baik. Keinginannya ini tidak pernah diceritakannya kepada siapapun. Kepada ibunya juga tidak.
Pada malam hari sering Amat tidak segera dapat tertidur lelap. Bayangan keinginannya menjadi nakhoda atau kelasi selalu menggodanya. Ia akan mengharungi lautan luas. Menjelajahi berbagai negeri. Setelah berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan di perjalanan tentu ia  akan pulang juga ke kampungnya. Ia akan membawa oleh-oleh kesenangan ibunya, bahkan lebih dari itu. Ibunya akan menyambutnya dengan kasih mesra di ambang pintu. Rumahnya tentu bukan lagi gubuk tiris, tetapi rumah batu besar yang kokoh. Angan-angannya yang demikian akhirnya kembali kepada alam sadar dan kenyataan.
Bagaimana ia dapat mencapai itu semuanya ? Sampai pikiran Amat menjadi buntu, ibarat pemburu kehilangan jejak binatang buruan; menyebabkan ia tidak dapat segera tidur. Bertahun-tahun ia diombangambingkan antara kenyataan dan cita-cita. Lebih-lebih kalau siangnya Amat bersama kawan-kawannya sebagaimana biasa berkunjung ke dekat pelabuhan. Malamnya pasti cita-cita dan kenyataan itu menghambat tidürnya.
Menjelang suatu senja hujan turun sampai larut malam, Amat tidak dapat pergi ke Meunasah mengaji dan tidur di sana sebagaimana biasa. Tidur di Meunasah bagi anak-anak remaja dan pemuda-pemuda sekampung adalah sudah menjadi adat di Aceh sejak zaman sebelumnya.
Malam itu Amat tidur di rumah. Matanya belum juga terpicing, kendatipun malam telah larut dan badannya terbaring. Pikirannya diamuk lagi oleh cita-citanya dan kenyataan entah berapa kali sudah kejadian demikian, ia tak dapat menghitungnya lagi.
Tanpa disadari Amat memperhatikan wajah ibunya yang sedang tidur pulas. Napasnya berat satu-satu, menandakan kerja keras siang harinya. Keningnya sudah mulai berkerut, pipinya sudah mulai cekung mendahului umur yang sebenarnya. Teringatlah Amat, dahulu semasa kanak-kanak dialah yang lebih dahulu tidur diantar oleh dongeng dari ibunya. Malam ini sebaliknya. Amat menyusuri kembali jejak-jejak masa silam, bapaknya yang sudah meninggal kehidupan keluarganya yang melarat serta bermacam-macam dongeng yang didengarnya.
Tiba-tiba Amat tersenyum sendiri. Senyum manis dan gairah. Apakah yang mendorongnya berbuat demikian ? Entahlah. Sementara hanya Amat sendiri yang tahu. Tiada berapa lama kemudian iapun tertidur lelap setelah berhenti hujan di luar.
Pada suatu hari di pelabuhan lebih ramai dari biasa. Berapa kapal sekaligus membuang sauh. Awak-awak kapal turun ke darat menambah hiruk-pikuknya suasana di pelabuhan saat itu. Amat sudah sejak pagi berada di luar pelabuhan. Dari agak jauh ia memperhatikan keadaan.
Memang akhir-akhir ini Amat sering sendirian datang. Kawan-kawannya kadang-kadang lebih suka adu layang-layang (Geulayang temang) di sawah atau belajar bermain geude-geude (gulat Aceh) di pasir pantai atau bermain sepak bola di halaman kampung. Kadang-kadang mereka berbondong-bondong ke suatu petak sawah kering dan luas menyaksikan peupak leume (adu sapi) antara sapi dari satu kampung dengan sapi kampung lain. Semua ini tidak lagi menarik perhatian Amat.
Hatinya sudah lebih banyak bertaut dengan pelabuhan. Hari itu juga Amat berusaha dan memberanikan diri menemui seorang pegawai pelabuhan, orang kampungnya sendiri yang ia kenal baik hati. Nama orang itu Kamil , tetapi sehari-hari orang lebih kenal dengan panggilan Pak Agam. Kebetulan Pak Agam keluar daerah pelabuhan hendak sembahyang luhur di mesjid tidak jauh dari pelabuhan. Keadaan di pelabuhan agak sepi. Pekerja-pekerjanya sebahagian besar sedang istirahat dan makan siang. Diantaranya ada yang sedang melaksanakan shalat dhuhur juga.
Amat menghampiri Pak Agam dengan hati berdebar dan ragu-ragu. Dengan sikap hormat disapanya : ,j°ak , Pak Agam !" Langkah Pak Agam tertegun, sambil menoleh ke arah datangnya panggilan itu. „Kau Amat, ada apa nak ?" Amat lebih mendekat. Hampir seperti berbisik seakan-akan gagap Amat menyampaikan maksudnya. „A. . . . Anu Pak ! Sa. . . . Saya ingin ikut salah satu kapal  itu", sambil menunjuk ke pelabuhan dan menandakan kapal. ,,Ha, Ha. . . . Ha! Pak Agam tertawa terbahak-bahak, „mana mungkin nak, tentu kamu tidak mampu membayar ongkos". Karena mendapat layanan dalam percakapan itu, Amat menjadi lebih berani dan lancar mengeluarkan suaranya. „Maksud saya Pak, saya ingin bekerja pada kapal itu". ,,Wah, umurmu
masih terlalu muda nak. Menurut pikiran bapak, kamu belum mampu bekerja berat di kapal." Amat terdiam, rasa kecewa merasak hatinya. „Bapak mau sembahyang dulu", kata Pak Agam, lalu iapun meninggalkan Amat yang masih tegak terpaku. Sejak saat itu Amat menjadi pemurung. Sudah jarang ia bersama kawan-kawannya. Dengan ibunya di rumah tidak lagi sebijak biasa.
Sikapnya menjadi lamban. Dalam mengaji sering salah.  Di hadapan kawan-kawannya ia berusaha berbuat seperti biasa, tetapi seperti  dipaksakannya. Teuku Meunasah gurunya mengaji, kawan-kawannya yang menaruh perhatian serta ibunya di rumah bertanya-tanya, mengapa Amat akhirakhir ini banyak berubah. Pertanyaan mereka kepada Amat selalu dijawabnya „tidak apa-apa, dengan senyum dipaksakan. Tidak seorangpun tahu sebab musabab kemurungan Amat, kecuali Pak Agam barangkali dan dirinya sendiri. Pada pikiran Amat, jika Pak Agam yang diyakininya baik hati itu tidak mau membantunya, apalagi orang lain.
Kekecewaannya semakin mehdalam. Waktu tidur ia selalu gelisah. Tiap hari tidak urung Amat datang ke dekat pelabuhan, sendirian. Kadang-kadang dari pagi sampai petang, seakan-akan ia lupa makan siang. Matanya selalu tertuju kepada kapal-kapal yang berlabuh dan bertolak.
Melihat sikap Amat sedemikian banyak kawan-kawannya dan orang sekampung menduga-duga apa yang sebenarnya yang dirindukan Amat. Tetapi akhirnya sampai juga kepada kesimpulan yang tidak pasti, karena tidak pernah terungkap dari mulut Amat sendiri. Pak Agampun tidak pernah menceritakan hal itu kepada orang lain. Diantara mereka ada merasa kasihan. Ingin membantu tetapi tidak tahu jalan. Sebahagian mengejek pula, menggelari Amat, si Pungguk merindukan bulan. Semua ejekan itu ditahankan, diterima dan ditelan oleh Amat sembari berdoa dan pasrah kepada Tuhan, semoga suatu ketika Tuhan akan memberikan jalan baginya. Amat tetap bersikap biasa terhadap mereka. Tidak ada tanda-tanda Amat memusuhi mereka yang mengejek itu.
Kiranya Pak Agam selalu memperhatikan tingkah laku Amat sejak pertemuannya pertama. Pak Agam merasa kasihan jika anak semuda itu harus bekerja berat di kapal. Tetapi sebaliknya pula Pak Agam kagum sekali terhadap cita-citanya yang sudah demikian tinggi dalam usia semuda itu.
Terbayang di benak Pak Agam kehidupan keluarga Amat sejak dulu. Apa lagi setelah Amat menjadi yatim serta ibunya tetap janda. Kehidupan keluarganya menjadi lebih sulit lagi. Kemudian menjalar pula pertimbangan, bahwa permintaan anak itu justru permulaan satu usaha mencoba memperbaiki kehidupan beserta ibunya. Usaha karena tanggung jawab yang luhur terhadap kebahagiaan ibunya di kemudian hari. Diam-diam Pak Agam berusaha memenuhi keinginan Amat.
Kesangsiannya yang utama kalau tidak ada nakhoda yang mau menerimanya, karena umur Amat terlalu muda. Suatu petang Amat dikejutkan oleh panggilan Pak Agam : „Mat, mari dulu !" Amat menghampiri Pak Agam setengah berlari. „Ikut Bapak !" ujarnya kemudian tanpa bicara lagi. Amat mengikut di belakang Pak Agam memasuki daerah pelabuhan. Jalannya Amat kaku. Maklumlah Amat jarang sekali memasuki daerah itu. Takut diusir orang yang menganggapnya pengemis, karena pakaiannya compang camping. Kal i ini karena diajak dan bersama Pak Agam
ia turuti juga.
Amat diperkenalkan oleh Pak Agam kepada seorang nakhoda yang sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang temannya dalam sebuah kamar di kantor pelabuhan. Dengan langkah tertegun-tegun dan muka sedikit pucat Amat memasuki ruangan itu. Orang-orang di luar kantor
memperhatikan Amat masuk dengan penuh tanda tanya.
„Inilah anak yang kumaksudkan kemarin, kata Pak Agam memulai pembicaraannya."
„Hm", sambil mendesis nakhoda memperhatikan Amat dari ujung rambut sampai ke ujung jari-jari kakinya yang telanjang. Nakhoda menilai, dari raut muka Amat adalah anak baik, jujur dan
keras hati. Perawakannya cukup tampan. Amat merasa malu, kepalanya menunduk. Sebetulnya Amat tidak takut, tetapi merasa rendah diri karena keadaannya yang demikian itu. Kemudian terjadilah tanya jawab dan percakapan antara nakhoda, Amat dan Pak Agam, yang pada pokoknya berkisar pada kehidupan keluarga Amat beserta ibunya sampai kepada keinginannya bekerja di kapal. „Kalau maksudmu benar-benar hendak membantu ibumu aku bersedia menerimamu bekerja di kapal. Dan kamu boleh turun ke darat, di daerah yang disinggahi kapalku, kata nakhoda menegaskan cita-cita Amat.
Seperti meiedak rasanya dada Amat, karena sangat gembira. Ai r matanya berlinang. Berkali-kali Amat mengucapkan terima kasih. Senyum Pak Agam seakan-akan tak habis-habisnya, rupanya iapun merasa sangat gembira dan bahagia usahanya membantu Amat berhasil.
Sejak saat itu air muka Amat cukup cerah kembali. Sikapnya kembali seperti semula. Walaupun begitu kepada orang tua ia tetap hormat, kepada kawan-kawannya tetap ramah dan sayang kepada anak-anak yang lebih muda dari padanya. Berita tentang Amat akan merantau dari mulut ke mulut cepat tersebar dalam kampung. Barulah kawankawannya menyadari mengapa Amat selama ini murung saja. Diantaranya menyatakan Amat akan beruntung, orang tuanya tentu akan bahagia nanti.
Karena keberangkatan kapal tidak lama lagi, Amat segera menyampaikan halnya kepada ibunya. Ibunya terkejut sekali, mengapa selama ini tidak pernah diceritakannya. Ibunya membujuk agar Amat membatalkan maksudnya.
„ Amat, anakku, betapakah ibu dapat melepasmu. Engkaulah anakku satu-satunya, tumpuan kasih selama hayat dikandung badan. Engkaulah tempatku bergantung di hari tua. Tidak ada sanak famili yang mau mengasuh ibu yang melarat ini !"
Sambil memeluk Amat ibunya menyampaikan keluhannya dengan kata tersendat-sendat dan air mata bercucuran. Amatpun demikian pula menangis sejadi-jadinya dan membiarkan ibunya berbicara terus.
„Amat , bapakmu sudah lama meninggalkan kita. Hati ibu sangat bahagia, walaupun kita hidup dalam keadaan seperti i ni . " Ungkapan kata hati ibunya putus sebentar. Hanya isak tangis yang terdengar.
Amat berusaha menyadarkan dirinya yang sudah mulai hanyut 'dalam arus kesedihan. „Nah, jangan pergi nak, jangan nak", ujar ibunya lagi dengan nada lemah resah."
Tidak lama kemudian sebaliknya Amatpun mulai membujuk ibunya. "Bu , kanrena itulah aku pergi bu. Karena cinta kasihku kepada ibu. Aku tidak tega mengalami kehidupan begini sampai ibu tua.
Aku ingin membahagiakan ibu. Bukan saja kebahagian dalam hati, tetapi kebahagian dalam kehidupan kita seluruhnya. Kembali sejenak, hanya isak tangis memenuhi ruangan gubuk tempat tinggal Amat bersama ibunya. "Bu! kata Amat kemudian. "Ak u akan mencoba mengadu untung di perantauan, Aku akan berhemat dan membawanya pulang". "Bu alangkah lebih bahagianya ibu dan aku sendiri, jika aku pulang nanti dapat menguntaikan sebuah kalung berharga di leher ibu, melekatkan cincin di jari ibu, gelang dan pakaian lainnya yang indah-indah." "Bu, izinkanlah Amat pergi, hanya 15 untuk sementara waktu. Aku pasti akan kembali jika nyawa masih di badan". ( B E R S A M B U N G.................... )

Comments

Popular posts from this blog

Legenda Gayo PUTRI IJO