Legenda Gayo PUTRI IJO

Sepanjang penuturan sahibul hikayat, disaat itu di dataran tinggi negeri GAYO, terdapatlah sebuah danau. Danau nan indah permai. Airnya jernih dan bersih. Dapat diminum pelepas dahaga seketika itu juga. Disekeliling danau terdapat teluk-teluk nan bening dipagari batu-batu curam laksana tembok yang diatur, direkat berlilit akar pohonan uyem , oleh arsitektur artistik yang pandai. Laksana dipakukan, didekorir, indah nian, syahdu mata menatapinya. Rerumputan bergayutan, ber-bunga-bunga, ber-aneka warna melambai menggapai di-bering-bering air danau jika bayu bertiup. Sebuah karya Tuhan Yang Maha Kuasa, rahmat yang dianugerahkan kepada hambaNya, yang kebetulan terletak di Negeri Gayo.
Uyem berjajar mengelilingi danau mendesau suara daunnya dihembus angin, itulah Danau Laut Tawar. Airnya bermuara ke selat Malaka, mengalir melaui sungai Wih Pesangan, berliku-liku. Terkadang ia terjun mengguruh menderu, menghempas diri ke batu dan karang terjal. Tenang, tiba di lubuk dalam, bersenandung sepanjang lembah.
Mengalir dilambai rerumputan di pinggir tubir. Hanyut bersama sekumpulan air anak sungai Wih Pesangan, se-akan-akan membawa dan menghantarkan amanah dari danau yang tawar, ke samudera luas yang asin tiada ber tepi di Selat Malaka. Entah membawa ratap berkeluh kesah, entah seloka yang indah.
Di beberapa tempat di sekitar Danau Laut Tawar, .terdampar dataran persawahan, sementara di lereng-lereng gunung dan bukitnya kita temui ladang dan'kebun. Subur dan makmur, sewaktu-waktu berwarna hijau laksana permadani, suatu masa menguning emas, hamparan padi masuk. Mungkin danau ini dulunya adalah sebuah telaga, kolam atau lubuk tempat mandi-mandi para dewi dan dewa, karena hampir tak ada tempat yang tidak menarik hati, menawan rasa. Ada tanjung-tanjung berbatu di pinggir dengan air yang dalam dan jernih.

Di beberapa tempat terdapat tempat-tempat yang mengandung ri wayat; Loyang Sekam, sebuah gua tempat Peten Pukes menjadi batu, Loyang Koro, sebuah güa yang dipergunakan zaman purba sebagai terowongan menembus jarak berpuluh kilometer mengusir kerbau ke lain daerah.  Atu Kude dengan ceritanya yang romantik, Datu Perupi konon mengabadikan kisah kenangan sebuah perangkatan dari Danau Laut Tawar yang bertarung dan menang di Kala Jemer, dan Loyang Peteri Ijo di sebuah tempat se-akan-akan pengawal gerbang masuk ke daerah danau.
Hiduplah di ranali Gayo ini penduduk nan rukun dan damai. Padi ditanam subur menjadi, jagung ditugalkan berbuan banyak, palawija dan sayr-sayur menjadi rezeki yang nikmat. Rakyat aman dibawah lindungan belai kasih Tuhan Yang Maha Kuasa. Dua kali dalam setahun, danau Laut Tawar dalam beberapa bulan mengeluarkan ikan "depik", ikan yang keluar bersama musimnya yang khusus, di antar oleh angin dan gerimis nan sepesipik. Ikan depik di tangkap banyak-banyak.  Di keringkan di jadikan belacan. Disimpan sebagai bahan persiapan lauk-pauk di sa'at-sa'at musim turun ke sawah.
Di musim depik mengeluar, udara sangat dingin, sehingga kadang kala kepala kita akan sakit, tapi segera akan sembuh jika "depik" telah di- makan. Di-dedah, di makan bersama-sama kepalanya, tidak perlu di-peruti, lahap dan lezat walau sedikit pahit.
Di musim depik, kita melihat kelap-kelip gemerlapan cahaya api/ lampu di penyangkulen disekeliling danau, laksana bintang bertabur. Di sebelah Barat danau Laut Tawar terletak TAKENGON, ibu kota Kabupatan Aceh Tengah sekarang.
Al kissah sahibul hikayat berdiamlah di negeri Gayo ini dahulu kala, keluarga sepasang suami isteri yang rukun. Bertahun-tahun mereka telah melayarkan bahtera hidupnya, senantiasa diliputi kasih mesra, walaupun suka dan duka silih berganti, namun perpaduan rasa cinta semakin erat. Terpateri, terpaku kuat. Bermacam-macam godaan mengganggu, tapi bahtera berlayar laju. Satu di antara banyak hal yang senantiasa merisaukan sanubari kedua makhluk ini , adalah sudah sekian lama mereka telah berumah tangga, tetapi belum mendapatkan buah hati.
Ke hadlirat Allah mereka senantiasa berdoa, memohon, kiranya mereka dikaruniai anak, yang akan meneruskan lukisan-lukisan al hayat yang telah mereka perbuat, sebagai sebuah rumah tangga yang menjadi contoh teladan di tengan masyarakatnya. Penghuni rumah tangga yang senantiasa berkata dengan mulut manis, berhati suci, lidahnya fasih dihiasi -budi pekerti yang tinggi. Selalu tangannya memberi, tak terdapat hati tetangga jauh maupun dekat yang dirugikannya.
Seperti rumah tangganya Tuen Petimah. Senantiasa saja orang rindu padanya, pada suami isteri yang sudah sekian lama merindukan keturunan. Sampailah saatnya Tuhan mewudjudkan kekuasaan-Nya. Rumah tangga yang sudah sekian lama sunyi daripada suara anak menangis, kini dianugerahi Allah sepasang anak kembar, seorang anak bayi putera dan seorang bayi puteri. Kebetulan lahirnya beriringan, bayi pria duluan mengikuti bayi wanita. Selamat, sehat sejahtera, ibu dan anak senantiasa dalam rawatan Yang Maha Kasih. Betapa senang hati sang ayah, tiada terkatakan. Rajin beribadat semakin bertambah, giat mencari nafkah meningkat. Semoga kedua anak yang di idam-idamkan itu akan menjadi anak amal shaleh, penerus keturunan yang diredlaiNya.
Dari sehari ke sepekan, bulan menjelang tahunpun mendatang. Anak kembar rahmat Allah nan membuat hati ibu besar tiada terbeda-bedakan, pagi ditimang, siang pelerai duka. Senja datang dibelai kasih mesra, malam pelipur lara. Badannya tumbuh membesar, senantiasa sehat.  Di tengah kampung anak kembar ini menjadi buah tutur mainan bibir, selain bentuk tubuh dan raut muka yang elok, konon dihiasi budi pekerti nan baik pula.
Si putera bernama MUDE BELANGI sebuah gelar julukan yang bernilai. Sang ayah dan ibu, tak kunjung lupa, selalu menanamkan benihbenih perangai budi pekerti yang mulia, kepada kedua anak sibiran tulangnya itu, Dihindarkannya daripada perbuatan dan perkataanperkataan yang bersifat "kembali" kiranya kelak pandai membawakan diri di tengah-tengah pergaulan masyarakat. Di-anjurkannya berkata tertib, berjalan sopan, pandai dan tahu membalas budi dan jasa.
Petuah adat mengatakan "remalan bertungket, peri berabun, bercerak enti sergak, mujurah enti munulak, mujamut enti munyintak" semakna dengan perintah yang menjadi firman. Jangan kamu berjalan menghentak-hentak bumi, mandi dihilir-hilir, berkata sepatah diffïrkiri, berjalan selangkah menghadap surut. Ajaran-ajaran mulia itu tumbuh bersemi di sanubari kedua anak ini , si abang dididik suka menyayangi adiknya, karena sehariannya kedua anak kembar ini terkadang harus tinggal di rumah, karena ayah dan ibu pergi ke huma.
Si adik memahami juga kasih sayang abangnya, oleh karenanya tak pernah mereka bertengkar.
Kalau ia telah bosan bermain di atas rumah, ia turun di halaman atau di bawah rumah, bermain tanak-tanakan. Begitulah senantiasa berlaku sehingga tiada dirasa, kedua anak ini kian besar juga. Membayang raut muka nan cantik, paras nan elok, kepala ditumbuhi rambut nan subur lebat, itam ikal mengurai mayang, suaranya empuk bak buluh perjndu, se-orang puteri yang mengayakan hati ibu dan ayahnyna. Mude Belangi juga demikian. Tampan kejantanan padanya melekat, watak bertanggung jawab menjadi dasar bawaannya. Berbudi agung, sudah begitu takdir Tuhan, rumah tangga yang sekian lama merindukan turunan, sekali datang dua pasang, betapa syukurnya.
"Anakku, kulekatkan cincin ini ke jarimu berdua, masing-masing sebentuk cincin yang serupa bentuknya, jangan seketika juapun engkau tanggalkan. Sernoga akan menjadi pertanda bagimu kelak, di suatu waktu kalau kebetulan kami telah tiada atau kamu harus berpisah karena menjalani garis-garis peta hidupmu. Cincin inilah yang akan bisa mempertemukanmu, membukakan rahasia bahwa engkau berdua se-ibu sebapa.." Demikian pesan kedua orang tua yang berbahagia ini kepada kedua anaknya, di suatu senja, selagi anak-anak itu masih dalam bedungan bersama matahari yang akan terbenam di ufuk barat.
Memang benar, amanat itu ditaati oleh kedua anak ini . Kemana pergi dan bermain apa sekalipun, namun cincin wasiat itu tiada pernah lekang dari jari mereka. Adapun cincin itu hampir sama keduanya, hanya masing-masing memiliki pertanda jantan dan betina. Jika disandingkan mengertilah kita bahwa cincin itu se-asal.
Suatu ketika, padi sedang rata masak di sawah. Ada orang yang sedang menyabit, ada yang sedang akan membuat seladang. Disaat-saat seperti ini pada galibnya, sunyilah orang di kampung, semua pergi ke sawah. Malah jauh hari sebelumnya sejak padi mulai tumbuh, sejak mumijo, desa sudah mulai sunyi. Kecuali anak-anak dan orang tua yang sudah uzur tinggal menjaga rumah, menghuni desa. Demikian amannya, tiada terguris di hati penduduk, bahwa akan ada orang yang masuk mengacau desa. Tidak pernah terfïkirkan barangkali di hati mereka bagaimana kalau terjadi sesuatu kecelakaan. Tapi sesungguhnya mereka selalu waspada, sebelum mereka meninggalkan rumah api di dapur dimatikan disiram air, mencegah kemungkinan terjadinya kebakaran.  "Win, jaga adikmu baik-baik. Mungkin hari ini kami terlambat pulang dari sawah. Sedang kita harus segera pula menyabit padi di long) rumah, di dekat lumbung di samping sengkaran. Sebagaimana biasa mereka gemar bermain tanak-tanakan.  Di saat inilah, sedang mereka bertanak-tanakan, kayu api sedang marak ditungku, dan si adik me megang-megang belanga, terjadi suatu peristiwa yang tidak didugaduga sama sekali. Sebuah kejadian yang tidak dapat diterima akal.
Suatu hal yang luar biasa. Disaat itu sang ayah dan ibu, merasa gelisah bekerja di sawah, lalu segera pulang. Dengan penuh manja, adik yang baru berusia 7 tahun itu telah dapat mengungkapkan suatu ucapan dewasa. Ujarnya, "kalau nanti kita telah besar bang, aku akan kawin dengan abang."
Mendengar ucapan yang pandak ini , Mude Belangi heran dan terkejut. Mendadak sontak ia marah. Siapa gerangan yang pernah mengajarkan kata-kata seperti ini . Tak mungkin lahir dari otaknya sendiri, sedang umurnya masih kecil. Tentu saja bukan ia yang berbicara itu, mungkin setan yang menyurup menyelinap di rongga adikku ini .
Tetapi betapapun Mude Belangi marah pada adiknya, ucapan itu diulang-ulang juga beberapa kali lagi. Mude Belangi tak dapat menahan amarahnya. Ia malu mendengarnya. Mukanya merah padam, berkeringat. Alangkah aibnya, jika didengar orang ucapan adiknya itu.
Tiba-tiba Mude Belangi menolakkan adiknya itu ke dalam api yang sedang menyala itu. Naas, adik yang malang ini sempat terbakar sebagian badannya, lengan kanan dan pergelangannya. Sambil menangis meraung-raung ia berlari-lari kesakitan, meminta tolong, sedang amarah abangnya tak kunjung reda-reda. Orang-orang berdatangan. Sementara itu pula orang tuanya pulang dari sawah. Betapa terkejutnya ia, sementara melihat orang ramai di rumahnya, apa gerangan yang telah terjadi.
Mendengar isak tangis dan sedu sedan anak puterinya, kedua orang tua ini mendadak marah pula. Dengan sepotong rimis Mude Belangi dipukulinya, diiringi kata-kata marah yang bertubi-tubi.
Penyesalan yang tiada terkatakan. Mude Belangi luka dikeningnya. Ia menangis. Sedih. Dan ia pergi, dengan muka berdarah. Tak ada bujuk cumbu menahani ke-pergiannya itu, yang mempan. Pergi meninggalkan ibu bapaknya, meninggalkan adik yang dikasihinya. Pergi, berjalan menurutkan arah kemana dibawa kadi, dengan hati penuh  kesal dan bertanya selalu, mengapa peristiwa ini harus terjadi mengapa adikku harus berkata demikian, siapa yang telah mengajarkan itu padanya, sepanjang hari tak kunjung ayal dari ingatannya. Menggoda selalu. Pipinya selalu basah dengan air mata.
Berhari-hari ia berjalan, terkadang makan terkadang tidak.  Di mana mengantuk di situ ia tidur, walau di tengah hutan belantara sekalipun. Kalau ia melintasi padang luas tiada sebatang pohonpun tempat berteduh, tiada mendapatkan mata air meiepas haus, dimamahnya akar lalang, sejenak dahaganya terobat. Ia mandi merendamkan badan sampai basah kuyup, jika berjumpa dengan anak sungai di tengah perjalanan yang tak tentu tujuan itu. Kalau hari malam, ke dua telapak tangannya dibantalinya. Menengadah ia ke langit yang penuh bintang bertabur. Terbayang mata adik nan dikasihi, terbayang kasih mesra ayah bunda. Kesal. Menyesal. Ia lerai dukanya dengan menangis.
Menangisi untung, dan akhirnya ia ber-tawakkal, menyerah diri, pasrah ke hadlirat Allah. Berbulan-bulan, setahun, dua tahun, masa berjalan, akhirnya mencapai belasan tahun. Takdir menentukan. Terdamparlah Mude Belangi di suatu ranah. Dibangunnya sebuah gubuk, sekedar dapat berlindung dari panas matahari dan hujan, disusunnya daun-daunan menjadi atap. Di situ ia tidur, makan dan minum.  Di ranah ini ia meneruskan hidupnya.
Walaupun masa berlalu sekian lama sedah, walupun ia telah melakukan berbagai-bagai dalih pelerai kenangannya, walupun ranah yang baru dibinanya itu telah menjadi kampung yang dihuni oleh berbilang orang, walupun negeri itu juga subur dan makmur, namun hatinya selalu terpaut akan kampung halaman. Rindu akan ibu bapa dan adik seorang yang senantiasa bermanja kepadanva. Tapi, untuk pulang, dikeraskan hatinya, sekali-kali tidak akan dilakukannya. Karena, malu. Negeri ini ia tinggalkan. la memulai perjalanan mengembara lagi. Entah kemana dan di mana akan berhenti, tiada menjadi pikirannya.
Berjalan. berjalan membawa hati kesal, mengembara, mengelana. Suatu ketika di suatu tempat, tinggi, diatas gunung Bur Kul , karena lelahnya, ia tertidur di bawah sebatang pohon besar. Ia bermimpi. Karena mimpinya itu, ia terkejut dan terjaga. Seakan-akan ia berada  di rumah sedang bermain-main dengan adiknya. Disandarkannya badannya ke batang kayu itu. Ditatapnya gununggunung dan lembah nan hijau biru dengan matahatinya. Didengarkannya semesra mungkin, suara desau angin, suara deru air di lembah, suara ratap seset  suara burung-bürung di dahan kayu, dan hatinya semakin rindu.
Terharu, karena jauh, disana nampak Danau Laut Tawar. Se-akan-akan memanggil menghimbaunya. Ia tidak maklum bahwa yang dilihatnya itu adalah danau tempat ia turun mandi dahulu kala. Tetapi, hatinya dihela, digugah oleh perasaan yang baru menyelinap, karena mimpi. Ia bangkit dan berjalan lagi, menuju arah danau nan tampak dimatanya itu.
Berhari, berbulan, akhirnya sampailah ia di sebuah desa perladangan. Disini ia menumpang pada sebuah keluarga.  Di bantunya peladang itu, mengerjakan segala sesuatu. Disini ia makan dan minum Peladang itu senang hatinya, mendapatkan Mude Belangi, seorang pemuda yang baik paras dan budinya. Kakinya cepat, tangannya ringan, belum dipanggil ia telah datang, belum disuruh ia telah per Hati siapa yang takkan terpikat padanya.
Pada suatu rembang petang, tatkala itu Mude Belangi akan pergi membersihkan badannya karena baru pulang dari ladang. Se-orang gadis berpapasan jalan dengannya. Gadis itu pulang dari wonen. Dibahu kananya tersandang sebuah perian berisi air, dengan tangan kirinya dikepitnya sebuah buyung di pinggangnya, juga berisi air akan dibawa pulang. Gadis baru berlangir limau purut. Baunya harum.
Mude Belangi jatuh hatinya. Kejadian seperti ini terjadi berulang kali. Hati kedua bani Adam dan Hawa ini bersentuhan. Bergetar tali-tali rasa dalam sanubari, tapi tiada nada yang bisa disuarakan. Konon Tuhan mentakdirkan, pada suatu hari lahirlah apa yang selama menjadi perasaan yang terpendam pada hati masing-masing. Dengan menempuh cara-cara yang semestinya, mempergunakan telangkai sebagai juru basa, gadis tadi di-pinang. Alhamdulillah, gayung bersambut, kata berjawab, lamaran diterima. Diaturlah segala sesuatu yang akan dilaksanakan. Dipenuhi segala macam permintaan si gadis. Musyawarah berjalan dengan baik. Tiada aral melintang, -tiada kata sepatah nan melukai perasaan kedua belah fihak. Direncanakanlah suatu pesta perkawinan nan sederhana dikediaman bapak angkat Mude Belangi. Berdatangan kaum kerabat. Canang dan gung pun berbunyi, suatu pertanda dan rasa bergembira. Suatu peralatan perkawinan yang lebih besar akan dilangsungkan dikediaman keluarga si gadis. Demikian biasanya berlaku. Konon jejaka yang akan menjan' mempelai ini adalah se-orang musafir kelana. Untuk menggembirakan hatinya sengaja peralatan perkawinan itu di pesta-porakan.
Bergemalah suara paluan canang gung gegedem repa'i repana, beberapa malam berturut-turut. Malam jege uce, man penan, mah beyi, jegekul , semah dan selengkapnya. Semua orang yang melihat pasangan mempelai itu merasa bersyukur, bangga dan ikut beruntung dan berbahagia. Bak pinang dibelah dua, bak janggut pulang ke dagu. Serasi.
Sampailah saatnya pada pelaksanaan sebuah acara dari pada adat perkawinan itu. Bahwa kedua mempelai akan di-arak beramai-ramai, berkeliling kampung, di-akhiri dengan mengantarkan mempelai turun ke air, di-iringi bunyi-bunyian canang, dilekatkan pakaian secara adat selengkapnya. Setibanya di tempat itu, di-pantai danau, dimuara sebuah anak sungai yang mengalir dari sebelah utara Danau Laut Tawar upacara itu dilangsungkan. Orang banyak menjadi saksi.
Tiba-tiba, "Adinda, pakailah cincinku ini , menghias jarimu, pertanda cintaku telah terpaut padamu", kata Mude Belangi. Lalu Mude Belangi menyerahkan cincinya. Diulurkannya tangannya menerima cincin itu. Ditatapnya cincin itu sebelum dilekatkannya ke jarinya. Ditatapnya muka Mude Belangi, sebuah liki t di keningnya. Mude Belangi mengikuti dengan seksama. Parut bekas terbakar di pergelangan si gadis, membuka riwayat.
"Kanda tidak tidak, kanda.
"Kanda tidak tidak, kanda.
Cincin ini akan bercerita, cincin ini membuka rahasia, bahwa, kau abangku. Kita se-ibu-sebapa. Kita telah berdosa, kanda ma'afkan aku.
O Tuhan, demi kehormatan leluhurku, izinkanlah aku terjun ke dasar Danau Laut Tawar ini menjadi penghuninya
aku malu tinggal bang." Lengkap dengan pakaian pengantinnya, gadis itu menceburkan dirinya ke air Danau Laut Tawar,. Tidak meninggalkan sepatah pesanpun Mude Belangi juga melompat dan berlari secepat kilat, meninggalkan orang yang sedang ramai itu. Entah kemana tiada diketahui.
Pengantin ini menjelma sebagai ular besar, kadangkala tubuhnya ular tapi parasnya seorang dara yang jelita, dengan rambut yang polos mengurai panjang. Kadang kala benar-benar sebagai manusia biasa, redup, syahdu matanya. Itulah PUTERI IJO, yang berdiam di Loyang Puteri Ijo, menguasai kawasan Danau Laut Tawar.
Loyang Puteri Ijo di-jadikan oleh orang menjadi tempat pemujaan. Puteri Ijo menjadi pujaan. Puteri Ijo di-asuh, Puteri Ijo menjadi asuhasuhan. Dengan memujanya, kepada Puteri Ijo dimintakan sesuatu, di mintakan obat, dengan melalui suatu upacara sesajen, berpedupaan, ber-menyan bakar, bertih telor, kunyit, ayam dan sebagainya.

T  A M A T

Comments