Legenda Aceh AMAT RHANG MANYANG (episode 2)

Amat terus mendesak ibunva dengan buiukan. "Berilah doa restu, bu !" Semua kata-kata Amat yang'diucapkannya keluar dengan sadar dari hati nuraninya sendiri. Hati ibunya menjadi bimbang antara merelakan anaknya pergi dengan tidak. Jika tidak diizinkan, barangkali kebahagian hanya ada pada hati ibunya, belum tentu juga pada diri anaknya.
Sebaliknya jika kebahagiaan anaknya direstui, terasa kekhawatiran, apakah anaknya Amat mampu menghadapi semua tantangan di negeri orang yang belum pernah dikenalnya. Apakah ia akan kembali dengan selamat, atau akan berkubur di antah berantah. Ibunya benar-benar ragu dan resah, lalu berdiri dengan lemah pergi ke dapur. Amat hanya mengikuti dengan pandangan mata redap diliputi kecewa.
Lama baru Amat tegah dari simpunya, ia berusaha menghimpun semua kekuatannya untuk berpikir, menghambat diri dari keputusan. Jika ia tetap tinggal di kampung itu sia-sialah tekadnya pergi merantau selama ini dan hancurlah semua usaha Pak Agam yang telah membantunya. Amat merasa malu pada dirinya sendiri. Karena itu tekadnya pergi merantau bulat kembali.
Amat mendekati ibunya yang sedang meniup api di dapur. Sebenarnya tidak ada lagi yang perlu ditanak, karena makanan sudah masah sejak tadi. Perbuatan ibunya demikian hanya sekedar berusaha melerai gelisah.
."Bu, izinkanlah bu! Berilah kepadaku doa restu", mohon Amat dengan suara lemah setengah berbisik. Ibunya seakan-akan tidak mengiraukan permohonan itu, hanya air matanya yang terus mengalir.
Begitulah terjadi beberapa kali hampir seharian itu. Amat mengikuti ibunya kemana pergi dan selalu menyampaikan permohonannya yang serupa. "Tidak ada apa-apa yang kuminta dari ibu sebagai bekal, hanya izin ibu yang ikhlas serta doa restu, semoga kita tetap dalam kandungan
Tuhan Yang Maha Esa."
Lama kelamaan lembut juga hati ibu si Amat, Lembut bukan karena bujukan anaknya, tetapi lembut karena kasihnya juga. Ia tidak ingin mengecewakan anaknya. Demikianlah kiranya hati seorang ibu, rela berkorban apapun demi kebahagian anaknya, apalagi anaknya Amat pergi untuk menjangkau cita-cita yang tinggi dan luhur.
"Anakku, baiklah permintaanmu ibu kabulkan, " Suatu pernyataan hati yang tulus, pendek dan sederhana. Tetapi bagi Amat seakan-akan jauh lebih besar dari gunung manapun, lebih tinggi dari langit ketujuh.
Dipeluknya ibunya erat-erat, sebagai tanda gembira dan awal bahagia yang tak terungkapkan, disaksikan air mata keduanya yang lebih banyak dari sebelumnya. Bagi ibu Amat sendiri kiranya agak lain, air matanya sebagai pertanda awal penderitaan lebih parah, berpisah
dengan anak, buah hatinya tersayang dan terkasih.
Mulailah dipersiapkan bekal untuk Amat. Beberapa potong pakaian bertambal yang menurut kadar ibu Amat masih baik dikumpulkan dan dibungkus. Beras segantang dan garam segenggam sebagaimana biasa bekal seorang pergi merantau tidak diperlukan Amat karena
ia akan mendapat makanan di kapal.
Tersebar pula kembali kabar di kampung Pasie, bahwa Amat akan segera berangkat. Kawan-kawannya datang ke rumahnya atau dudukduduk berkelompok di bawah pohon kelapa di luar kampung berbincang-bincang tentang keberangkatan Amat dan kemungkinan nasib serta keberuntungannya di perantauan. Diantara mereka sambil bergurau berkata: "Mat, jika engkau beruntung menjadi orang kaya kelak, jangan lupa kepada kami ya!". "Ah , mana mungkin Amat ingat kita lagi. Biasanya orang kaya lupa kepada orang miskain seperti kita i ni . "
kata yang lain pula. "Ha Ha ha !", mereka semua tertawa. " Betulkah begitu, Mat?" tanya yang lain pula. "Insya Allah tidak akan kulupakan kalian, jawab Amat.. "Justru aku pergi untuk kebahagian ibuku. Agar ia lebih berbahagia.
Kalian kan tahu kehidupanku berserta ibuku sekarang lebih melarat dari kalian semua", kata Amat menambahkan. Kabar itu sampai pula ke kampung Paya Senara dan kampungkampung lain sekitarnya. Banyak orang memuji keberanian Amat dan kebaikan hati Pak Agam yang sudah membantunya.
Didapatlah berita dari Pak Agam bahwa besok pagi kapal yang ditumpangi Amat akan bertolak menuju Sabang. Pak Agam menyuruh Amat mempersiapkan apa yang perlu. Hati Amat dag-dig-dug menerima berita itu.
Malam harinya ibu Amat berusaha menenangkan perasaanya. Dina-sehatinya Amat sebanyak-banyaknnya.
"Anakku, hanya nasehat itulah yang dapat ibu berikan sebagai bekalmu. Ingatlah bahwa nasehat itu jika diindahkan dan dilaksanakan mana yang perlu adalah sama dengan mukjizat. Jika tidak diindahkan dan tidak dilaksanakan akan menjadi sebilah pedang yang akan memotong leher sendiri. Camkanlah semua nasehat ibu itu", kata ibu Amat.
Setelah berhenti sejenak ibu Amat bangun dari duduknya pergi kesebuah peti kayu tempat penyimpanan pakaian. Seketika ia duduk kembali mendekati anaknya sambil menggenggam sesuatu ditangannya.
"Anakku", ujarnya kemudian sambil mengulurkan isi genggamannya. Bawalah rencong ini besertamu. Satu-satunya benda berharga milik bapakmu, warisan dari kakekmu. Rencong ini bukan untuk menyerang orang dalam perbuatan jahat, tetapi untuk membela dirimu terhadap siapapun yang dengku khianat kepadamu. Terimalah anakku!"
Amat mengulurkan kedua tangannya dengan gemetar menerima benda itu. "Nasehat ibu akan kuingat dan kupatuhi selamanya" "jawab Amat singkat dan haru. Kiranya keduanya tak mampu lagi menahan air mata mereka, maka bercucuranlah keluar.
Terompet kapal sudah berbunyi sekali, ketika Amat yang menyandang bungkusan beserta ibunya tiba di pelabuhan. Pak Agam dengan ramah menyongsong mereka. Ia memberi petunjuk
kepada Amat bagaimana naik ke kapal dan memberi tahukan agar segera naik. TerjadÜah perpisahan yang tak tertuliskan betapa harunya antara Amat dengan ibunya. Terakhir kelihatan Amat memeluk kaki ibunya.
Terompet kedua , terompet ketiga berbunyi. Kapal perlahanlahan bergerak maju. Amat melambaikan tangannya dengan lesu dari geladak. Ibunya beserta Pak Agam membalasnya demikian juga dari dermaga. Dalam hati ibunya berdoa semoga anaknya lekas kembali.
Sebenarnya nakhoda kapal itu tidak bermaksud memberikan pekerjaan yang berat kepada Amat . Ia tertarik kepada dita-cita Amat yang demikian luhur, lalu ingin membantunya.  Di kapal pekerjaannya ringan saja dan bebas kesana kemari.
Pakaiannya diganti seperti awak kapal lainnya. Kelihatan agak kebe saran sedikit karena memang Amat masih terlalu muda, umurnya pada waktu itu kira-kira lima belas tahun. Karena ramahnya cepat Amat dapat menyesuaikan diri dengan awak kapal lainnya. Semua mereka memanggil adik kepadanya, kecuali hanya nakhoda sendiri yang memanggilnya Amat.
Sejak di kapal ia banyak ingin tahu tentang kapal itu. Sering ia bertanya kepada awak-awak kapal lainnya, dimana tempat barang dan sebagainya, sampai-sampai ia menyanyakan nama nakhoda kapal tersebut. Tentang laut ia tidak begitu takjub, karena Amat sendiri memang anak pantai.
Sementara awak kapal dalam kesibukan, kadang-kadang Amat menyendiri. Terbayang kembali perpisahannya dengan ibunya, apa kiranya yang dikerjakan ibunya sekembalinya dari pelabuhan dan kapan ia akan kembali. Melihat semua tingkah laku Amat nakhoda menganggukanggukkan kepalanya, tandanya ia suka kepada Amat dengan kerajinan, dan keramahannya.
Tibalah kapal yang ditumpangi Amat ke Sabang sebuah pelabuhan dipulau Weh yang terletak diujung utara pulau Sumatera. Kapal berlabu Barang untuk Sabang diturunkan, kemudian ada pula yang dinaikan ke kapal. Waktu istirahat awak kapal boleh turun ke darat daerah pelabuhan. Amat sudah lebih leluasa dapat memperhatikan keadaan kesibukan-kesibukan di kapal dan di darat daerah pelabuhan itu sendiri.
Amat menilai tidak banyak berbeda dengan pelabuhan di Krueng Raya dekat kampungnya. Pasie. Terompet pertama berbunyi tanda kapal akan segera bertolak.
Tanda yang sudah dikenal Amat sejak ia kanak-kanak. Mnyusul terompet kedua dan ketiga. Kapal bergerak mengubah haluan ke arah selatan, ke pulau Pinang, yang kemudian disebut Penang saja. Betapa indahnya kala senja di tangan laut tanpa tepi, seakan-akan dunia ini hanya lautan belaka. Betapa indahnya haluan membelah ombak. Buih-buih kekuning emasan ditimpa rena senja. Ikan hiyu berbondong-bondong mengikuti kapal, kadang-kadang di haluan kadang-kadang diburitan. Ikan terbang sekali-sekali melayang di atas permukaan air.
Demikian berhari-hari. Bagi Amat cukup mengasyikkan, karena perjalanan jauhnya yang pertama sekali. Lain halnya dengan awak kapal lainnya, baru sehari dalam perjalanan sudah rindu kepada pelabuhan yang dituju.
Kapal terus melaju, melaju tiada henti siang dan malam. Yang ditakuti adalah angin topan yang dengan mudah dapat mengombang-ambingkan kapal laksana sabut. Bila hal itu terjadi kecekatan dan ketrampilan awak kapal menurunkan layar sangat diperlukan. Juru mudi dengan
penuh waspada mengendalikan kemudi. Hiruk pikuk dan teriakan komando berkumandang kemana-mana.
Syukurlah hal seperti itu tidak terjadi kali ini , hanya cerita awak kapal yang sudah pernah mengalaminya kepada Amat. Kapal terus melaju, lagi-lagi melaju sampai suatu ketika kelihatan daratan sayupsayup di kejauhan.
Pulau Pinang dengan Penangnya, salah satu kota pelabuhan besar diselat Malaka, ramai sekali. Perahu-perahu mundar-mandir diselesela kapal-kapal yang sedang berlabuh. Dermaganya kokoh kuat, gudang-gudang berderet teratur. Beberapa kapal sedang merapat membongkar dan memuat barang. Yang lainnya membuang jangkar agak jauh, menunggu giliran merapat, termasuk kapal yang ditumpangi Amat. Pada suatu kesempatan menjelang kapal merapat ke dermaga Aamat agak terkejut mendapat tepukan di kedua bahunya dari belakang. "Ah : kiranya nakhoda," pikir Amat dalam hati. "Apakah kau senang dalam pelayaran tadi, Mat?" tegur nahkoda.
"Senang sekali tuan dan pengalaman saya yang pertama, jawab Amat. " Di pelabuhan ini kita agak lama berhenti, karena keluarga tinggal di kota ini. Engkau sewaktu-waktu boleh turun melihat keadaan di pelabuhan dan kota."
"Terima kasih Tuan." "Tidak berapa lama sesudah itu kelihatan nahkoda turun dari kapal, diiringi oleh dua orang kelasi mejingjing kopernya. Dalam hati Amat merasa cemburu mengapa bukan dia yang disuruh Nahkoda mengiringkannya supaya ia tahu rumah nakhoda itu. Tetapi kemudian Amat menyadari bahwa tidak seluruhnya harus bergantung kepada pertolongan orang lain.
Amat berusaha membantu pekerjaan awak-awak kapal, kendatipun kepadanya tidak terlalu dituntut suatu keharusan. Sekali-sekali dipergunakannya waktunya melihat-lihat kota. Menurut
ukurannya kota itu cukup besar. Bendi dan gerobak lembu merupakan alat angkut yang utama. Ada juga gerobak kecil yang ditarik orang.
Umumnya merupakan alat angkut jarak dekat dan untuk barang-barang yang tidak terlalu berat. Bermacam-macam orang memenuhi jalan-jalan dan pasar dalam kota, Laki , perempuan dan anak-anak hilir mudik mrasing-masing dengan urusannya sendiri. Kebanyakan orang-orang itu perawakannya sperti Amat sendiri. Kemudian Amat tahu bahwa merekalah yang disebut orang Melayu. Ada yang disebut orang Barat, orang India, orang Keling, Cina dan sebagainya.
Amat tidak di kapal lagi. Permintaan Amat agar ia diizinkan tinggal di Penang dikabulkan oleh nakhoda. Nakhoda menepati janjinya dahulu bahwa Amat boleh turun dimana saja di tempat yang diinginkannya. Bahkan nakhoda yang baik itu menambah nasehat-nasehat dan Amat sangat berterima kasih atas semua kebaikannya. Sepeninggal kapal, Amat berusaha mencari pekerjaan untuk menyambung hidup nya dari hari ke hari. Lama-lama Amat menyadari bahwa di kota Penang yang dalam tanggapan Amat demikian aman dan tenang, dihuni oleh berbagai bangsa, kiranya tidak mudah mendapatkan pekerjaan, berbeda dengan dugaan Amat semula. Sudah berhari-hari Amat mencari pekerjaan apa saja yang mungkin dilakukannya, tetapi belum kunjung dapat. Pengalaman pahit pertama Amat dirantau orang.
Sebenarnya Amat adalah anak yang cerdas dan dapat dipercayai. Hal ini dapat dibaca pada porosnya dan sudah kelihatan pada waktu mengaji di kampungnya dahulu. Kiranya orang-orang sangsi memberikan pekerjaan kepada Amat, karena banyak pengalaman mereka memerima anak yang seperti itu, akhirnya menipu mereka dengan mencuri uang dan barang-barang berharga lalu lari dengan kapal keluar negeri. Apalagj Amat sering mamaki pakaian kelasinya Suatu hari Amat jadi nekad, tetapi dengan pikiran yang jujur. Ia memberanikan diri memasuki sebuah warung dan meminta sepiring nasi campur. Karena laparnya segera nasi itu dilahapnya. Dalam hati timbul rasa ngerinya. Bagaimanakah jadinya nanti, uang di kantong tidak ada
sepeserpun.
Apakah ia akan dipukuli karena tidak dapat membayar nasi yang dimakannya atau dibawa ke kantor polisi, kemudian dijebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan menipu? Ia berdoa kepada Tuhan semoga memberikan jalan baginya. Perbuatan itu dilakukannya karena  terpaksa, karena laparnya tidak tertahankan lagi.
Selesai makan dengan maksud baik, Amat segera menghadap orang pemilik warung, dan mengemukakan dengan sikap hormat, bahwa ia tidak dapat membayar yang dimakannya dengan uang, tetapi bersedia mengerjakan apa saja yang disuruhkan kepadanya. Mendengar pernyataan Amat penilik warung mengerutkan dahinya kemudian meledaklah marahnya, dengan melontarkan kata-kata penginaan dan pedas Amat menundukkan kepalanya, insyaf akan'perbuatan nekadnya.
"Kuseret kau ke kantor polisi, penipu! bentak peninik warung lagi. Amat tidak dapat berbuat apa-apa. Dalam hati ia merasakan apa yang tadi dibayangkannya akan terjadi, ia menyerah kepada keadaan Kiranya penilik warung berpikir pula. Apalah artinya harga sepiring nasi baginya dibandingkan dengan kebutuhan yang amat sangat bagi seseorang. Penilik warung ingin menguji kebenaran pengakuan Amat. Lalu katanya dengan nada suara yang jnenurun: "Kalu kau memang mau membayarnya dengan bekerja, baiklah. Mari ikut aku."
Pelayan yang lain terheran-heran, mengapa anak muda yang tadi disugukannya sepiring nasi, tiba-tiba saja sudah bekerja bersama mereka, mencuci piring. Amat mengetahui hal itu, tetapi ia tidak peduli, yang penting bagi Amat ia dapat membayar walaupun dengan tenaga. Amat berusaha bekerja dengan tekun dan sebaik-baiknya. Sudah berapa hari Amat bekerja diwarung itu dengan upah hanya sekedar dapat makan saja. Demikianpun bagi Amat sudah merasa syukur.
Suatu hari dirumah pemilik warung yang terletak dekat pinggiran kota, didepan keluarganya dan tamu tercetuslah cerita tentang Amat diwarung itu sebagai bahan kelakar. Keluarga pemilik warung beserta anak-anaknya tertawa terbahak-bahak dan tamunya tersenym-senyum begitu tuan rumah selesai dengan ceritahya. Mereka menganggap cerita itu lucu.
"Sebenarnya aku tidak memerlukan tenaganya, pelayanku sudah cukup," kata tuan rumah. "Tetapi aku kasihan, dari pada ia akan berbuat begitu juga di tempat lain, "tambahnya lagi. Kemudian tuan rumah menceritakan akan sejarah hidup Amat, sebagaimana pernah diceritakan Amat kepadanya.
Setelah berbincang-bincang sekian lama, tampaknya tamu mereka sudah ingin mengundurkan diri . Tetapi sebelum itu tamu tersebut meminta dengan nada ber-sungguh-sungguh, bahwa jika tuan rumah benar-benar tidak memerlukan Amat diwarungnya, orang itu bersedia memberikan pekerjaan kepada Amat sebagai tukang kebun dirumahnya. Amat berusaha secepat mungkin dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya yang baru. Rumah besar dan megah, yang dihuni oleh satu keluarga terdiri dari bapa, ibu berserta tiga orang anak yang masih kecil. Dua orang perempuan setengah umur sebagi pembantu dalam rumah dan dapur.  Di belakang terletak kamar buat Amat.  Di luarnya tergantung beberapa sangkar burung yang besar dan sebuah kandang anjing peliharaan. Semuanya jauh berbeda dengan lingkungan hidup di kampungnya Sendiri.
Bagi Amat yang cukup cerdas itu suatu petunjuk pelaksanaan pekerjaan tidak perlu diulangi dua kali . Sekali saja diberitahu sudah mampu memahami dan mengerjakannya dengan tepat dan cepat. Tugas Amat sehari-hari membersihkan halaman sekeliling rumah, merawat pekarangan yang luas dengan taman bunganya, membersihkan kandang anjing, memberi makan anjing dan burung-burung. Kadangkadang Amat disuruh mengawasi anak-anak jika mereka sedang bermain di taman bunga, lebih-lebih jika sedang berbelanja kepasar. Mereka bermain bersama-sama termasuk anjing kesayangan tuannya.
Karena sifat Amat yang peramah, jujur, rajin dan baik hati, segera ia mendapat tempat yang baik pula di hati semua penghuni rumah. Anak-anak sangat suka kepadanya. Anjing peliharaan itupun segera mendekat sambil meliuk-liukan badannya dan mengibas-ngibaskan ekornya seraya menggonggong kecil, jika melihat Amat.
Satu-satu waktu sambil istirahat pada siang hari Amat membaringkan tubuhnnya diatas rumput empuk di bawah pohon rindang di halaman depan. . Saat-saat demikian ia ingat kembali masanya yang lampau. Ibunya, kawan-kawannya, Pak Agam, nakhoda sampai kepada saat ia berbaring itu. Betapa sukarnya ia mendapatkan sepiring nasi diwakrung pada beberapa bulan yang lalu, yang akhirnya seakan-akan ia diperjual belikan kepada tuannya yang sekarang. Semua itu ia tahankan dengan kesabaran. Teringat ia akan pesan ibunya "yang manis jangan segera ditelan yang pahit jangan segera dimuntahkan." Selama sudah beberapa bulan itu hanya sekali-kali tuannya memberikan uang kepadanya. Dan hanya sekali-sekali pula Amat pergi ke pasar membeli keperluannya yang mungkin tidak terpikir oleh tuannya dengan uang sedikit yang diterimanya itu.
Bulan berganti terus sampai sudah hampir setahun Amat di rumah itu. Tuannya baru saja membeli sebuah perkebunan karet yang besar. Buruh kebun itu cukup banyak. Sejak itu karena tuannya kadangkadang sibuk mengatur pekerjaan buruh-buruh dikebun, Amat sering disuruh membantu pelayan lainnya di toko kain milik tuannya itu sendiri.
Dengan demikian kenaïan dan pengalaman Amat cepat bertambah, Penilik warung yang dulu tetap diingat oleh Amat dan tetap baik terhadapnya, dan begitu pula sebaliknya. Sebagai pelayan toko kain yang besar tentu saja pakaian Amat cukup baik, rapi dan bersih. Tampang Amat yang sekarang jauh berbeda dengan tampangnya yang dahulu. Cukup tampan dan gagah serasi dengan pakainnya sebagai orang kota. Namun demikian perilakunya tetap perilaku yang dulu juga, sopan, rajin dan jujur. Karena itu terus menerus mendapat kepercayaan dari tuannya.
Sudah lama kiranya belum ada suatu pekerjaan tetap yang diberikan tuannya kepadanya, sampai pada suatu hari Amat disuruh pula memimpin pekerjaan buruh diperkebunan tuannya. Tugas memimpin pekerjaan buruh itu memerlukan kesungguhan dan ketekunan. Tuannya mengetahui hal ini . Karena itu sejak saat itu Amat hanya bertugas di perkebunan itu saja lagi.
Hanya pada hari-hari libur Amat datang ke rumah tuannya, sedangkan pada hari-hari kerja ia tetap berada di perkebunan yang letaknya agak jauh di luar kota. Kedatangannya ke rumah itu sudah lebih banyak dianggap sebagai keluarga dari pada dulu sebagai pekerja merawat halaman dan tanaman.
Anak-anak tuannya tetap ingat kepadanya dan selalu menyambut Amat dengan kemanjaan. Demikian juga anjing peliharaan tuannya berlari menyonsong Amat, jika melihat Amat datang.
Semuanya seakan-akan meiepaskan rindu selama beberapa hari tak berjumpa.
Sebagai pemimpin pekerjaan buruh Amat mempunyai hak dan kewajiban sama dengan buruh yang lain. Haknya mendapat upah dan kewajibannya bekerja.
Setiap bulan Amat mendapat gaji tetap yang tertentu banyaknya. Amat berhemat dan menabung sebagjan besar dari gajinya. Ia selalu ingat janjinya kepada ibunya, bahwa sekembalinya dari perantauan  ia akan menguntaikan kalung berharga di leher ibunya, menyelipkan cincin di jari ibunya, mengenakan pakaian yang indah di tubuh ibunya, dan sebagainya.
Hari berjalan terus, keuntungan tuannya berlipat ganda, dari toko dan dari perkebunan karetnya. Amat juga menghitung-hitung simpannannya, rupanya sudah agak banyak juga. Agar jumlah uang Amat cepat bertambah, ia mendapat akal dan terus banting tulang. Ia mencoba meniru perbuatan tuannya. Tentu saja caranya berbeda.
Amat membeli sebuah kios dipinggiran kota agak ke dalam. Sore sehabis kerja di perkebunan sampai malam ia berjualan di kios tersebut. Kiosnya itu diisinya dengan barang-barang keperluan seharihari. Mulai dari garam, minyak, gula dan bumbu-bumbu masak sampai kepada barang-barang kelontong. Tetapi jumlahnya masing-masing terbatas menurut modalnya yang tersedia.
Persedian barangnya cepat ha bis, karena Amat sangat peramah dan pandai menarik hati pembeli. Kemudian cepat pula disinya kembali dengan berbelanja ke pasar besar. Sungguhpun begitu pekerjaannya sebagai buruh diperkebunan karet tidak pernah dilalaikannya. Dengan demikian keuntungannya cepat bertambah berlipat ganda pula. Keuntungan demi keuntungan ditabungnya, seperti lebah menghimpun madu, seperti semut menimbun busut.
Hal ini diketahui oleh tuannya. Diam-diam tuannya merasa kagum, dan menjadi bahan cerita kembali di kalangan keluarga dan kenalankenalan tuannya. Sepuluh tahun sudah Amat merantau. Ibunya selalu diliputi pertanyaan, bagaimanakah dan dimanakah kiranya anak kesayangannya itu.
Kepada orang-orang sekempungnya ibu itu menanyakan, kalau-kalau ada yang mendengar kabarnya, tetapi tidak seorangpun yang dapat memberikan jawaban yang pasti. Jawaban orang-orang di pelabuhan juga tidak memuaskan hatinya. Jawaban yang diterimanya simpangsiur. Semua itu membuat hati ibunya resah dan gelisah, tetapi akhirnya ia berserah kepada Tuhan dan tetap mendoakan agar kepada anaknya Amat diberikan Tuhan perlindungan. Kehidupan ibu Amat tidak banyak berubah. Ia hanya berusaha sekedar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, sesuap dua suap nasi. Tidak berusaha lebih dari pada itu.
25 Wajahnya sudah mulai keriput dimakan umur. Ditambah dengan rasa rindu yang belum tentu datang obatnya. Kalau diketahuinya ada kapal baru berlabuh, dipasangnya telinganya baik-baik, kalaukalau ia dapat mendengar berita tentang anaknya atau barangkali anaknya kembali dengan kapal itu.
Kiranya Amat juga demikian. Saat-saat istirahat jauh dari kesibukan pekerjaan, ia terkenang kepada ibu tercinta yang ditinggalkan Rasa rindu menyelusuri seluruh tubuhnya. Sebenarnya untuk sekedar pulang ia sudah mampu mengongkosi dirinya, tetapi cita-citanya membisikkan belum waktunya ia kembali. Apalah artinya kalau hanya sekedar pulang tanpa membawa sesuatu yang berharga untuk kemudian hari.
Dalam pada itu Amat bersyukur, bahwa selama ini rezekinya berlimpah. Amat sadar pula bahwa itu semua berkat doa ibunya sendiri. Kadangkadang dengan tidak disadarinya Amat berbisik sendiri: Sabarlah ibu tunggulah aku kembali."
Kiranya hubungan batin antara ibu itu dengan anaknya tetap terpaut. Ki ni Amat benar-benar dewasa. Dewasa umur dan dewasa pengetahuan yang dimatangkan oleh pengalaman penderitaannya.
Pada suatu hari pemilik perkebunan karet tempat Amat bekerja dikejutkan oleh berita yang didengarnya di kota, bahwa Amat sudah membeli sebuah toko di kota itu. Orang itu ingin segera mengetahui kebenarannya dan memang benarlah demikian setalah didengar pengakuan Amat sendiri.
Semula orang itu merasa rugi kehilangan Amat, satu-satunya tenaga yang sangat terampil di perkebunan karetnya. Amat tentu tidak akan dapat lagi membantunya, karena sibuk dengan tokonya yang baru.
Karena kecerdasan Amat yang dianggap orang itu luar biasa, terpikir olehnya akan bekerja sama dengan Amat dalam hal dagang. Orang itu menyerankan kepada Amat supaya berdagang kain saja. Dan kebetulan sarannya itu sesuai dengan keinginan Amat yang sudah lama direncananakan.
Kabar tentang Amat menggemparkan kawan-kawannya buruh diperkebunan karet milik tuannya, juga menggemparkan kenalankenalannya. Tak ketinggalan penilik warung. Semua mereka tidak menduga sama sekali bahwa Amat akan dapat menjadi orang kaya dan secepat itu pula. Penilik warung tersenyum lucu sendiri, ketika  di-ingat-ingatnya bagaimana Amat pada belasan tahun yang lalu makan di warungnyai tanpa uang sepeserpun.
Kiranya Amat sedang dinaiki rezeki, dagangnya sangat laris. Pengalamannya menjadi pelayan di toko tuannya dulu sangat berharga bagainya dalam usaha memajukan tokonya. Disamping itu mendapat bimbingan yang perlu dari bekas tuannya.
Amat mengambil kesimpulan dari semua pengalamannya yang sudah berlalu, bahwa modal pertama dan utama adalah kemauan yang keras "Dimana ada kemauan disitu ada jalan". Sesudah ada kemauan yang keras perlu diiringi oleh kejujuran, sopan santun, baik hati, peramah dan sebagai kunci terakhir berdoa dan tagwa kepada Tuhan. Amat ingat semua nasehat ibunya, pengajaran gum mengajinya, nasehat orang tua-orang tua dikampungnya dan nakhoda kapal dahulu.
Sebenarnya semua itulah yang mendorong Amat memberanikan diri dahulu mengambil keputusan pergi merantau. Amat yakin akan modal yang sudah didapat itu dengan mengamalkannya secara tulus ikhlas, bersungguh hati. Konon pula modal itu tidak berat membawanya; tidak perlu dijinjing atau dipikul. Semua itu sudah menjadi satu dengan dirinya sendiri dan sudah akan terbawa kemana saja ia pergi.
Keyakinan Amat dahulu itu sudah menjadi kenyataan. Dengan itu ia sudah mendapatkan modal usaha berupa uang dan benda-benda berharga berlimpah. Hanya tinggal mengaturnya menurut kemauan.
Sebagai lanjutan dari usahanya Amat membeli sebuah kapal dagang yang besar. Amat berusaha mempelajari seluk beluk kapal itu, bahkan ia sudah mampu menjadi nakhoda. Dengan demikian apa yang dicitacitakannya di kampung Pasie, tempat asalnya dahulu sudah terwujut, bukan lagi berupa impian belaka.
Diam-diam dengan khidmad Amat bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada semua orang yang pernah memberi nasehat dan membantunya sejak dahulu. Langkah, rezeki, pertemuan dan maut adalah di tangan Tuhan, kata orang orang zaman dahulu, empat serangkai ini pasti dilalui dan dialami oleh setiap manusia pada umumnya. Langkah Amat meninggalkan kampung halaman pergi merantau, dalam hal ini dapat dinilai sangat baik. Kemudian diikuti oleh rezeki yang berlimpah. Dua hal yang sudah pernah dilaluinya, maka tibalah hal ketiga, pertemuan.  Kiranya pertemuan Amat sudah ditetapkan dan ditakdirkan oleh Tuhan bukan dengan orangnya sekampung sebagaimana lazimnya, tetapi dengan seorang gadis anak bangsawan di Pulau Pinang itu sendiri -Asam digunung garam dilaut bertemu dalam belanga. Pemuda Aceh dari kampung Pasie, gadis bangsawan di pulau Pinang bertemu dalam perjodohan. Gadis bangsawan ini selain sangat cantik berbudi baik pula. Benar-benar pasangan yang serasi lahir dan bathin..
Betapa meriahnya upacara persemian perkawinan sepasang insan ini , kiranya seorangpun tak akan mampu mengisahkannya dengan sempurna. Tujuh hari tujuh malam pesta pora. Selama itu Linto Baro (Pengantin lelaki) dan Dara Bare (Pengantin Perempuan), tidak sepi-sepinya mendapat kunjungan dan jabatan tangan ucapan selamat dan berbahagia dari semua handai tolan, kenalan serta sanak famili di Pulau Pinang.
Saat-saat bersejarah demikian ini tidak dilewatkan begitu saja oleh sepasang Linto Baro dan Dara Baro ini . Mereka berbulan madu ke semua tempat-tempat hiburan dan tempat yang menyenangkan di pulau Pinang. Bahkan melawat kedaratan semenanjung Malaka.
Dalam bermesra-mesraan keduanya sudah mulai berbincang-bincang dengan sikap saling manja terhadap kehidupannya dimasa yang akan datang. Mulai dari bakal rumah yang akan mereka tempati terlepas dari orang tua sampai kepada buah hati mereka berdua.
Amat sebagai Linto Baro sudah menempati rumah baru bersama isternyaSudah mulai kembali membuka usahanya. Dengan kapalnya sendiri kadang-kadang disertai isterinya. Usaha dagangnya mendapat sambutan baik dimana-mana, sekali gus mendatangkan keuntungan yang besar.
Satu hal yang masih sangat merisaukan hati Amat sudah dua puluh tahun Amat merantau, meninggalkan ibunya di kampung Pasie Aceh. Berkali-kali Amat merencanakan kembali menjenguk ibunya, bahkan sejak Amat belum berumah tangga, tetapi tetap ada-ada saja hal yang menggagalkan.. Kiranya Tuhan belum mengizinkannya. Kini dirasakan takkan ada lagi yang menjadi penghambat. Semuanya sudah ada padanya. Kapalnya lebih dari mampu berlayar ke pelabuhan Krueng Raya di Aceh dekat kampungnya Pasie.
Isterinya sudah berkali-kali menayakan soal orang tua Amat, tetapi Amat sendiri belum pernah memberikan keterangan yang lengkap. Hanya Amat berkata supaya isterinya bersabar, satu waktu kelak pasti berjumpa dengan'mertuanya.
Suatu ketika tibalah saat yang baik. Amat memutuskan untuk menjenguk sekali gus menjemput ibunya. Pada mulanya Amat bermaksud pergi sendiri, tetapi isterinya berkeinginan keras pula ikut bersama.
Ingin segera berjumpa dengan mertuanya dan ingin melihat dari dekat kampung halaman tempat tumpah darah suaminya yang tercinta. Mereka pergi bersama. Beberapa hari dan malam di laut antara pelabuhan yang ditinggalkan dan yang dituju. Kian dekat, hati Amat kian berdebar-kebar. Bagaimanakah nasib ibunya setelah dua puluh tahun ditinggalkan. Adakah perubahan-perubahan di pelabuhan dan kampungnya? Masih adakah orang yang mengenalnya, dalam pakaian dan tugasnya di kapal itu sebagi nakhoda?. Semua yang dirisaukan Amat tidak akan terjawab sebelum sampai di tempat yang dituju. Hanya hatinya yang semakin berdebar-debar, seirama dengan semakin dekat dan jelasnya daratan.
Jangkar dibuang, kapal berlabuh agak jauh dari dermaga. Mata Amat nyalang ke tempat sekitar. Perahu-perahu masih seperti dahulu, mundar mandir mengitari kapal.  Di sana-sini di daratan tidak banyak perubahan.
Bangunan lama bertambah tua. Ada beberapa bangunan baru. Tetapi belum dapat menandai seorangpun diantara mereka di pelabuhan. Pak Agam yang dulu belum terlihat oleh Amat. Apakah masih bekerja di pelabuhan ataukah sudah berhenti karena tuanya. Amat masih dapat menandai tempat terakhir bersama ibunya dan Pak Agam di pelabuhan itu dulu. Semuanya terbayang kembali dengan jelas di benak Amat. Seakan-akan kejadian dua puluh tahun yang lalu, saat-saat ia meninggalkan pelabuhan pergi merantau, baru kemarin terjadi.
"Hei , abang Amat! " tiba-tiba teriak seseorang dari perahu disamping kapal sambil melambaikan tangan. Amat terkejut mendengar namanya dipanggil. Ia menoleh dengan sikap menyelidiki siapa orang itu.
"Abang pulang, ya. Aku Agam Puteh," teriaknya lagi dalam bahasa Aceh. Amat cepat ingat nama itu, lalu ia pun membalas dengan lambaian tanggan sambil tertawa riang. "Naiklah ke kapal Agam!"
"Nanti saja bang. Kapalmu merapat dulu, Aku sedang sibuk!"
Dengan melambaikan tangan kembali Agam Puteh meninggalkan tempat itu kecelah-celah kapal yang lain. Amat mengagumi ingatan Agam Puteh yang demikian kuat. Amatpun ingat kembali masa kanak-kanaknya dulu. Agam Puteh anak pamannya. Dulu lebih kecil dan lebih muda sedikit dari padanya. Dipanggil demikian karena kulitnya memang sedikit lebih putih dari kawan-kawannya yang sebaya. Melalui Agam Puteh, kemudian dari seorang ke seorang tersebar
kabar sampai ke kampung Pasie, bahwa Amat sudah kembali. Kabar itu segera pula sampai ke telinga ibunya. Tak dapat dilukiskan betapa gembiranya ibu tersebut. Seakan-akan sudah kembali semua semangatnya, terobat pulih kembali semua penderitaan selama ditinggalkan Amat buah hatinya.
Tak sabar ibu itu menunggu, ingin segera memeluk anaknya. Tak -banyak ia berharap, kecuali agar Amat segeTa kembali kepangkuannya. Amat, anaknya yang dahulu pergi merantau ke negeri orang, kini telah kembali.
Dengan kelesuan tubuhnya karena tua, tertatih-tatih ibu itu berusaha berjalan ke pelabuhan.  Di tengah perjalanan ia banyak bertemu dengan orang-orang dari pelabuhan. Hampir semua mereka meneriakan sambil jalan: "Bu ! Amat sudah pulang." Hanya dibalas oleh ibu itu dengan
senyum bahagia dengan mulutnya yang sudah keriput.
Kapal merapat. Amat mendahului turun ke dermaga menandakan ia tidak asing di daerah itu. Tujuannya yang utama ke kantor Mungkin akan menanyakan hal ibunya. Hiruk pikuk di sekitarnya tidak dihiraukannya.
Tiba-tiba: "Abang Amat!" teriakan kedua kalinya menyebut namanya. Amat menatap ke depan, Beberapa langkah di hadapan Amat, kelihatan Agam Puteh bersama seorang perempuan tua.
Ditelitinya perempuan tua itu dari kepala sampai ke kaki. Rambutnya ubanan, wajahnya keriput, matanya keputih-putihan, kelihatannya sudah agak rabun, sudut-sudut mulutnya merah lelehan sirih yang dikunyah, pakaiannya compang-camping, badannya bungkuk, bertekenan pada sebuah tongkat.
"Abang Amat, inilah ibumu," kata Agam Putih dengan suara lembut seakan-akan memperkenalkan.
"Anakku! "sambung ibu itu sambil mengulurkan tangan kanannya ingin memeluk Amat. Dalam hati Amat menyadari benar-benar ia sedang berhadapan dengan ibunya sendiri. Amat menoleh sejenak ke kapal dan sekitarnya. Dilihatnya isterinya sedang datang mendekat. Awak-awak kapal dan sebahagjan besar orang-orang dipelabuhan mengarahkan pandangan ke tempat ketiga itu.
Tiba-tiba seperti halilintar disiang bolong Amat berteriak keras-keras ' Tidak, tidak! Ini bukan ibuku!" "Akulah ibumu, nak!. Ibu merasa gembira dan bahagia sekali, engkau kembaü. Peluklah aku nak!" 'Tidak! Engkau bukan ibuku, engkau adalah pengemis tengik dan busuk Ibuku tidak begini rupanya! Kiranya Amat enggan dan mungkir mengakui perempuan tua ibu ibunya, karena takut dicemoohkan oleh isterinya dan anak buahnya di kapal. Pada pikiran Amat, kalau mereka tahu ini ibunya, tentu mereka akan mengatakan bahwa Tuan Amat yang kaya raya itu adalah sebenarnya keturunan rakyat jelata yang melarat, tidak pantas memperisterikan seorang nerempuan turunan bangsawan.
Karena itu Amat mengingkari kenyataan yang sebenarnya. "Anakku, akulah ibumu nak, Akulah yang melahirkanmu.  Ai r susu ibu inilah yang membesarkanmu. Marilah kita pulang ke rumah, nak!" "Barangkali benar pengakuan orang tua ini , bang!" kata isterinya.
"Memang benar, inilah ibumu, bang Amat! Keadaannya memang sudah banyak berubah, sudah sangat tua setelah berpuluh tahun kau tinggalkan. Aku tahu sekali, bang!" kata Agam Puteh menambahkan.
"Ah , tidak! Ini bukan ibuku. Ini pengemis tua yang tidak tahu malu Pergi, pergi dari sini " Amat menuding.
"Anakku," ibunya mendekat maju ingin meraih Amat.
' Tidak! Jangan dekati aku. Aku nakhoda baru datang ke mari."
"Anakku, aku ibumu nak. Suaramu masih dapat kutandai. Suara Amat, anakku!" Ibu itu maju mendekat terus mengulurkan tangan seakanakan meraba-raba hendak menjamah wajah anaknya.
"Hai bedebah!" Amat menendang perempuan tua ini sampai jatuh terjungkir. Tongkatnya terpelanting. Amat sendiri menarik tangan isterinya lari dan naik ke kapal.
Serta Amat memanggil semua awak kapalnya. Berteriak memberi perintah supaya kapalnya segera berlayar meninggalkan pelabuhan itu.
Ibu itu dengan susah payah berusaha bangun dan duduk bersimpuh.
Lalu menadahkan tangan, dan mengadahkan muka ke langit, berdoa:
"Ya Tuhanku, aku yakin dia adalah anakku. Aku bermohon kepadaMu,
berilah kesadaran yang sebenarnya kepadanya!"
Tuhan adil. Selesai berdoa, tiba-tiba saja turunlah badai, hujan sangat lebat disertai angin kencang. Semuanya jadi panik mencari tempat berlindung. Kapal-kapal seperti sabut, terombang-ambing kesana kemari dihempaskan ombak sebesar gunung.
Tak dapat mata jauh memandang. Alam sekitar keputih-putihan diliputi kabut dan hujan. Badai mengamuk sejadi-jadinya tujuh hari tujuh malam terus menerus. Ditengah-tengah desauan angin dan deraian lebatnya hujan, dari arah Laut sayup-sayup kedengaran teriakan pilu:
"Ibu , Ibu ! Aku anakmu, ibu! "Maafkan aku ibu
Ibu !". . sekali didengarnya. Lalu berderailah air matanya selebat-lebatnya seperti lebatnya hujan yang turun waktu itu. Ibu itu menyesali sikap anaknya yang demikian angkuh. Sia-sialah segala jerih payahnya mengasuh, memelihara dan membesarkannya. Sia-sia pulah segala pengajiannya dahulu. Ia ingkar kepada pengajaran Tuhan dalam Agama Maka Tuhan menurunkan laknat kepadanya. Teriakan itu didengar perempuan tua itu berkali-kali. Kemudian hilang ditelan deru hujan angin dan ombak. Hujan reda. Laut tenang kembali air Krueng Raya' bertambah besar. Dimana-mana kelihatan air tergenang dan melimpah ruah. Angin berhenti di Udara cerah sejauh mata memandang.
Tidak jauh dari dermagga diantara pecahan ombak tersebut sebuah batu sebesar kapal. Itulah kapal Amat Rhang Manyang, Kapal Amat Yang Durhaka berserta awak kapal dan isinya. Tuhan' sudah menurunkan mala petaka kepada Amat , bukan sekedar menjadikannya batu, bahkan selama air laut tidak kering Amat Rhang Manyang tetap terendam dan dihempas-hempiskan' oleh ombak, yang merupakan siksaan sepanjang masa. 

( T A M A T )

Comments

Popular posts from this blog

Legenda Gayo PUTRI IJO